Notification

×

Iklan

Iklan

Kartini Era Digital Diuji, Wakil Ketua III DPRD: Jangan Jadikan Emansipasi Sekadar Slogan Tahunan

| April 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-23T10:30:33Z


   KOTA BEKASI.Pena98— Di tengah gegap gempita peringatan Hari Kartini 2026, narasi tentang perempuan berdaya di era digital kembali digaungkan. Namun di balik optimisme itu, realita di lapangan masih menyisakan ironi: peluang terbuka lebar, tapi akses belum sepenuhnya merata.

Puspa Yani S.Pd, Wakil Ketua III DPRD Kota Bekasi menegaskan bahwa perempuan hari ini memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan, terutama di era digital yang membuka ruang tanpa batas.

“Perempuan harus menjadi motor perubahan, memanfaatkan teknologi untuk berkembang dan berkontribusi,” tegasnya.

Namun, pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai.

Digitalisasi memang membuka jalan baru bagi perempuan—dari pelaku UMKM hingga kreator ekonomi berbasis platform. Tapi faktanya, tidak semua perempuan memiliki akses yang sama terhadap teknologi, pelatihan, dan permodalan.

Di satu sisi, ada perempuan yang mampu menembus pasar digital. Di sisi lain, masih banyak yang tertinggal, bahkan belum tersentuh literasi digital dasar. Inilah jurang yang diam-diam melebar.

Selain persoalan akses, perempuan juga masih dibayangi tantangan klasik: budaya patriarki, beban ganda, hingga keterbatasan ruang dalam pengambilan keputusan.

Ironisnya, di era digital yang seharusnya membebaskan, justru muncul ancaman baru—kekerasan berbasis gender di ruang digital yang kian meningkat. Artinya, medan perjuangan Kartini hari ini bukan hanya berpindah, tapi juga semakin kompleks.

Jangan Berhenti di Narasi
DPRD Kota Bekasi menilai, semangat pemberdayaan perempuan tidak boleh berhenti pada slogan atau seremoni tahunan.

Tanpa kebijakan yang berpihak, narasi “perempuan berdaya” berisiko menjadi jargon kosong.
Diperlukan langkah konkret:
- akses pelatihan digital yang merata
- dukungan permodalan bagi UMKM perempuan
- perlindungan hukum di ruang digital
- serta kebijakan ramah perempuan di tingkat daerah.

Puspa Yani juga menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar objek pembangunan, tetapi subjek utama yang menentukan arah perubahan.

Peran perempuan di keluarga, komunitas, hingga ekonomi lokal menjadikan mereka simpul strategis dalam mempercepat kemajuan daerah.

“Kalau perempuan kuat, maka keluarga kuat. Dan dari situ, masyarakat ikut bergerak,” pungkasnya.

Jika dulu Kartini melawan keterbatasan lewat pemikiran dan tulisan, hari ini perempuan berhadapan dengan tantangan yang lebih kompleks—antara peluang digital dan ketimpangan akses.

Hari Kartini 2026 pun menjadi cermin:
apakah perempuan benar-benar sudah berdaya, atau baru sebatas narasi yang diulang setiap tahun?

    (Boston)
×
Berita Terbaru Update