Bekasi, Media Pena 98 — Pemerintah dan warga Kota Harapan Indah duduk bersama dalam dialog terbuka membahas persoalan banjir yang kerap melanda kawasan tersebut. Kegiatan ini diprakarsai oleh Persatuan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) dan digelar pada Rabu, 5 Februari, bertempat di Wisma Bhineka CTS, Kota Harapan Indah, Bekasi.
Camat Tarumajaya tidak dapat hadir secara langsung dan diwakili oleh Sekretaris Camat Tarumajaya, Jio. Dalam forum tersebut, Jio menegaskan bahwa dialog terbuka ini sangat penting sebagai sarana pemerintah untuk mendengar langsung keluhan dan aspirasi masyarakat.
“Dialog seperti ini sangat berarti bagi kami, karena bisa langsung bertemu dan mendengar apa yang dirasakan warga,” ujar Jio di hadapan peserta forum.
Dalam dialog, warga menyampaikan salah satu penyebab utama banjir adalah penyempitan aliran kali akibat bangunan liar yang berdiri di sepanjang bantaran sungai. Menanggapi hal tersebut, Sekcam Jio menyampaikan bahwa pihak kecamatan membutuhkan data konkret dari RT dan RW terkait keberadaan bangunan liar tersebut sebagai dasar tindakan lanjutan.
“Di forum ini saya ingin meminta data dari para RT dan RW terkait bangunan liar yang menyempitkan kali. Namun sangat disayangkan, tidak satu pun RT dan RW hadir,” ungkapnya.
Meski demikian, Jio menegaskan pihak Kecamatan Tarumajaya tidak akan tinggal diam. Ia berkomitmen untuk mendorong RT dan RW agar segera melakukan pendataan bangunan liar, yang selanjutnya akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan.
“Ke depan kami akan mendorong RT dan RW agar mendata bangunan liar tersebut, sehingga bisa kami sampaikan ke Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk dilakukan tindakan,” tegasnya.
Dialog terbuka ini turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, di antaranya Anggota DPRD Kota Bekasi Murfati Lidianto, SE, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi H. Usup, S.IP, perwakilan BSDA Kota Bekasi Irwan, Camat Medan Satria Budi, Lurah Medan Satria Wawan, Lurah Pejuang Hendra, Ketua PENA 98 Bekasi Raya Richal Hutahaean, SH, serta Ketua Paguyuban RT/RW Kota Harapan Indah, Peno.
Forum dialog ini diharapkan menjadi langkah awal penyelesaian persoalan banjir secara terpadu melalui sinergi antara pemerintah, legislatif, aktivis, dan masyarakat. ( Boston )

